*AKU PULANG DIA PERGI*
Malam menjelang pagi aku terbangun dari tidurku. Buru-buru aku membersihkan tubuhku. Tak seperti biasanya pagi itu aku gembira sekali, mengenakan hem bergaris-garis berwarna hitam putih dan celana blue jeans putih sepatu juga putih. Aku langkahkan kakiku untuk mebangungkan ibuku. Berjalan menempuh jarak sekitar setengah kilo meter. Karena aku nginap di kerjaan. Kuketok pintu tiga kali “tok...tok...tok... sambil memanggil ibuku, “bu...bu... bangun udah pagi, udah jam empat!!!!”. Ibuku terbangun dari tidurnya, aku berdiri di depan pintu sambil menunggu di bukakan pintu. Sebelum di bukakan pintu aku sudah bilang duluan “ bu.... aku cari taksi dulu ya bu...” ibunya menjawab “ya cari sana...” baik bu... jawabnya.
Tak lama kemudain aku sudah kembali dengan taksi yang kudapat. Kupanggillah ibuku, “ bu... taksinya sudah datang ni...” “ baik nak kita segera berangkat yu...” ajaknya. Lalu aku bukakan pintu taksi ibuku, lalu masuk kedalam dan kututup lagi pintu itu. Giliran aku naik kedalam taksi. Kemudian taksi membalik arah “ke Gambir bang” suaraku menyasup kesunyian di dalam taksi. Satu kilo meter, dua kilo meter, limaaa..... sepuluh..... aku diam tak mengeluarkan suara. Yang aku dengar hanya suara mesin taksi. Tak kusangka aku sudah di jalan Jendral Sudirman, taksi membelok ke kiri menuju ke pom bensin “ngisi bensin ya mas” kata sopir taksi itu. “Silahkan bang” katanya. Lalu taksi melanjutukan perjalanannya taksi meluncur dengan kencangnya.
Singkatnya, di setasiun kereta api Gambir dia turun. Lalu membayar ongkos taksi sebesar Rp. 45.000 (empat puluh lima ribu). Kemudian aku memasuki gedung setasiun kereta api, aku mendesis begitu melihat antrian yang begitu panjang “massa ALLAH udah panjang antriannya bu...” katanya, ibunnya hanya diam saja. Lalu aku mencarikan tempat duduk untuk ibu saya, sambil menunggu aku ikut antri beli karcis. “ duduklah bu... disini aja tungguin barang-barangnya ya!!!” perintahnya. Jam empat sampai jam lima seperempat aku baru mendapatkan karcisnya, satu jam lebih aku ikut antri. Ditamabah lagi aku harus menunggu keretannya, biasa jam karet selalu mundur. Apa nggak cape tuh! Padahal pikiranku udah kepingin naik ke kereta. Tapi apa boleh buat kereta belum datang mau ngapain lagi. Hati ku kesal banget, kenapa keretanya nggak dateng-dateng ? Eh tak lama kemudian dari corong yang dipasang di sudut gedung terdengar suara yang mengatakan “ perhatian-perhatian di lajur empat akan masuk kereta fajar utama jurusan Jogjakarta melalui Cikampek, Cirebon, dan Purwokerto. Oh yeah..... disini aku belum mengatakan kemana aku dan ibuku tujuannya. Mohon sorry aja ya... aku dan ibuku mau pulang, tujuannya akhir aku naik kereta yaitu stasiu Purwokerto, itulah kota kelahiran ku.
Dan akhirnya masuklah kereta fajar utama yang akan saya tumpangi. Seluruh penumpang menghambur begitu kereta berhenti, beramai-rami pada rebutan pintu kereta. Tapi aku tetap sabar menunggu pintu agak longgar, setelah tidak berebutan baru aku naik sambil menggandeng ibuku. Kini perlahan-lahan kereta mulai bergerak melintasi bantalan kereta satu per satu. Para pengantar melambaikan tangannya, begitu juga para penumpang yang merasa di antar sama sanak saudaranya, atau sama kekasihnya. Semua penumpang menduduki tempat tempat duduknya masing-masing, kecuali penumpang yang tidak kebagian tempat duduk. Mereka berdiri di depan pintu-pintu untuk semantara. Kini aku di dalam kereta, ibuku disebelah kananku di satu A. Aku termenung, termenung, terus termenung tak sepatah kata pun yang aku keluarkan dari mulutku, entah apa yang sedang aku renungkan. Ibuku juga tak ada bedanya dengan aku hanya diam saja, matanya menerawang keluar entah apa yang di lihatnya. Sementara itu suara roda kereta yang menggilas rel sepanjang jalan membudegkan seluruh penumpang. Suara-suara besi gandengan kereta yang berbenturan menggoyangkan seluruh gerbong, sehingga seluruh penumpang kereta tak bisa diam.
Kereta melaju dengan sangat kencangnya tak menghiraukan apa yang di gilasnya, tak peduli apa yang di samping kanan kirinya. Rerumputan yang berada di bawahnya menunduk memberi hormat kepada kereta yang melewati, karena di timpa angin yang di bawa sang kereta. Lama sudah setasiun kereta Gambir kutinggal jauh, kereta api terus menyusuri rel besi baja dengan kecepatan yang tinggi. Sejauh ini sebagian para penumpang terkantuk-kantuk, sebagian lagi berbincang-bincang dan sebagian lagi memandangi pemandangan di sebelah jauh sana dan lain-lain lagi di lakukan para penumpang yang didalam kereta. Di samping kiriku dua orang ibu-ibu duduk dilantai, hatiku merasa nggak enak. Aku anak muda duduk diatas, sementara ibu-ibu itu duduk dilantai. Lalu aku bangun dari tempat duduku dan ibu-ibu itu kupersilahkan duduk “silahkan duduk bu...” kataku, “makasih jang” katanya. Kemudian ibu-ibu itu duduk bersama ibuku disebelah kirinya. Aku pun duduk di dekat pintu sambil menghirup udara yang masuk kedalam gerbong kereta. Sewajarnya anak muda harus mengalah sama orang tua, apa lagi dia itu udah lanjut usia. Kereta semakin lama semangkin kencang jalannya, bagaikan kesetanan. Begitu juga jarum jam semakin lama semakin jauh meninggalkan angka-angka yang di lewati, tapi akhirnya dia akan bertemu karena jarum jalanya memutar. Tak kusangka kereta mulai perlahan-lahan jalannya, kiranya akan memasuki stasiun Cirebon. Semakin pelan keretanya berjalan dan akhirnya berhenti di stasiun Cirebon. Di sinilah kalau tidak salah pertengahan perjalananku menuju kampung halaman ku. Kereta berhenti sekitar sepuluh menit, waktu sepuluh menit aku pergunakan untuk turun sambil menghirup udara diluar, udara kota cirebon. Pikiran mulai gelisah rasa ingin sampai mulai terbayang di pikiranku. Tak lama kemudain setelah jam keberhentian kereta sudah habis kereta pun mulai berangkat. Seluruh penumpang khususnya yang pada turun entah itu beli makanan, entah itu sekedar melihat-lihat disekitar stasiun Cirebon seluruhnya naik kembali. Lalu aku duduk kembali di deepan pintu, kembali juga aku termenung sendiri. Mata melihat pemandangan jauh disana, padi disawah tumbuh dengan subur melambai-lambaikan daunnya yang terkena tiupan angin. Pepohonan berdiri dengan kokoh di lereng pegunungan.
Jarum jam terus bergeser tak kenal berhenti. Rasa lapar diperutku mulai terasa, seolah-olah ada makhluk di dalam perutku kesakitan, berkeliatan tak tahu dia kenapa. Tapi anehnya aku tidak ada nafsu untuk makan, padahal dari pagi sedikit pun perutku tidak kemasukan makanan. Maaf bukannya aku tidak punya duit, tapi emang itu aku udah terbiasa, kalau di perjalanan jarang-jarang aku makan. Sebenernya waktu itu aku bawa duit banyak tapi gimana yaeh??? Cuma di dalam pikiranku inginnya cepat-cepat sampai di rumah dan ingin ketemu sama dia. Akhirnya aku tidak makn sedikit pun, begitu juga ibu saya. Dia juga seperti saya tidak makan dan tidak minum. Oh rasa kantuk di pelupuk mataku mengganjal berat banget rasanya. Aku bangun dari temapt dudukku, kulihat dari pintu ke depan sana ah.... rupanya kereta akan masuk ke setasiu Purwokerto . Akhirnya atau singkatnya berhentilah di setasiun Purwokerto. Alhamdulillah sampai juga aku di Purwokerto dengan selamat. Lalu aku turun dari kereta bersama ibuku, ku langkahkan kakiku menuju pintu keluar. Para tukang-tukang becak, tukang taksi menawarkan jasanya untuk mengantarkan diriku sampai tujuan, tapi semuanya aku tolak. Kakiku terus melangkah menuju jalan raya yang di lewati angkutan umum. Kutunggu-tunggu angkutan kota yang jurusan tanjung lama sekali. Terpaksa aku sama ibuku naik yang jurusan terminal purwokerto. Baru kita naik jurusan Cilacap, tapi aku turun di desa Patik Raja, katanya ibuku mau belanja dulu. Kesempatan ini aku pergunakan untuk mengerjakan kewajiban yaitu sembahyang (sholat) di masjid. Seusai aku sholat perutku kok rasanya lapar skali, ku cari-cari ibuku kemana dia gerangan, eh tahu-tahunya dia nongol disampingku habis dari toko kecil.
Lalu aku sudah tidak sabaran akhirnya ibuku ku ajak kerestauran kecil. “makan dulu ya bu aku lapar banget nieh” kataku. Ibu ngikut masuk ke dalam , ku pesan dua piring nasi beserta lauknya. Ku lahap semua satu pirng nasi beserta lauknya ibu saya sampai keheranan melihat saya makannya cepat sekali. Matahari memancarkan sinarnya tanpa peduli makhluk bummi kepanasan atau tidak. Debu-debu sedikit beterbangan menghampiri dedaunan dan genteng yang di sekelilingnya, pagi itu eh... maksud saya hari itu langit bersih tiada mendung sedikit pun sehingga panas matahari terasa panas sekali. Kiranya istirahatku sudah cukup lama, kemudian aku membayar semua pesananku termasuk makanan yang dimakan ibuku. Lalu aku menlanjutkan perajalananku dengan menumpangi kendaraan angkutan umum. Lagi-lagi aku di dalam angkutan juga tidak sepatah pun aku ucapkan. Oh yaeh cuma sekecap saja yang aku keluarkan ke kenek angkutan itu, kataku “turun sekolahan tumiyang ya”. Alhamdulillah sampailah kini ketempat kelahiranku yaitu di desa Tumiyang kecamatan kebasen kabupaten Banyumas Jawa Tengah, itulah alamatku. Kalau sekiranya para pembaca berminat mencatat alamatku silahkan...
Nah sekarang aku akan menceritakan bagai mana aku menemui doiku. Gini nih..... setelah aku istirahat sebentar aku langsung pergi mandi. Air yang jernih mengalir dalam lobang selang, dengan rasanya yang dingin dan penuh mesra kasih sayang dia jatuh di punggungku mengalir menyusuri pori-poriku. Dengan rasa tanggung jawab dia membawa debu-debu dan kotoran yang melekat di tubuhku, dan menyegarkan seluruh kulitku. Lalu ku keringkan tubuhku dengan handuk, air pun tak marah dia kehilangan diserap benang-benang halus. Kemudian jarum menunjukan angka tiga tepat, lalu ku kenakan jeans warna biru dan sepatu warna putih. Kemudian aku melangkah meuju jalan raya dimana aku biasa menjegat angkutan umum. Gelap mulai menyelimuti seluruh alam ini, lampu-lampu mobil mulai dinyalakan, begitu juga lampu rumah-rumah penduduk mulai berkelap kelip. Seorang cowo turun dari angkutan umum berpakaian sederhana bertubuh besar dan tinggi berlari kecil memasuki rumah di sebrang jalan. Rasa was was menyandar di pikirannya adakah teman ku sekarang di rumah? Persaan tak bisa dipungkiri, begitu sampai dirumah yang dituju. Suara seorang laki-laki menyapa diriku, ku jawab dengan perasaan yang senang dan jujur. Berbincang-bincang mulai menyayap kesunyian, satu temanku yang paling setia pada diriku, ku tanyakan pada orang tuanya “kemana dia kok tidak kelihatan” jawaban menyesalkan diriku “dia tidak dirumah.” Pertama aku kesal karena temanku tidak dirumah, rasa kepingin pamitan mulai timbul di angan-anganku. Ku putuskan angan-anganku itu dengan pamitan kepada tuan rumah, kaki terus ku langkahkan meuju rumah teman yang sama-sama di perantauan. Sekedar menyampaikan pesanan yang dititip kan kepada diriku. Kaki telah berhenti di depan pintu, mulut mengucap assalamualaikum. Dari dalam terdengar suara membalas wa’alaikumsalam, keluarlah ibu-ibu setengah baya membukakan pintu untukku. Ku ulurkan tanganku menjabat tangan ibu-ibu itu sambil nanya “sugeng mbook” kataku. Kata ibu-ibu itu “ya kie ketemu maning” (ya alhamdulillah ketemu lagi). Seterusnya aku berbincang-bincang dengan pakai bahasa jawa.
Kuping terasa mau pecah, jantung seakan berhenti denyutnya, dada terasa panas ingin rasanya aku memanggil nama kekasihku sekeras-kerasnya. Setelah aku mendengar kekasihku si July telah pergi meninggalkan tempat kelahirannya tanpa pesan sepatah & katapun alias minggat. Tapi apa di kata, aku cuma ciptaan tuhan, tuhan memberikan lakon seperti ini kepada diriku. Nanti tuhanlah yang akan memberikan jalan terbaik untukku. Aku cuma bisanya memohon semoga aku dikuatkan imannya dan juga imannya July kekasihku. Sementara gelap terus menyelimuti di sekelilingnya dan waktu terus bergulir tanpa kenal berhenti, dia tetap pada pendiriannya terus bergulir, bergulir sampai bertemu kembali seperti waktu kemarin. Semakin bingun pikiranku semakin pusing kepalaku, pikiran rumit seribu macam pikiran bergejolak di dalam otakku, satu lagi yang bikin aku nggak betah di kampung ini, rasa takut pulang kerumah menyabut kepalaku. Sekali lagi malam semakin menebal, iihh menyeramkan bagi orang penakut sepertu diriku. Pembeciraan terus berlangsung dengan asyiknya, kulihat jam dinding di atas kepalaku jarum sudah menunjukan jam sembilan malam. Aku nekat pulang dengan diantar sama adiknya temanku, dia juga teman akrabku. Sebelumnya aku pamitan dulu sama tuan rumah, dan sebenernya tuan rumah menawarkan jasa baiknya kepada diriku di suruh nginap saja barang semalam. Tapi aku tolak, terpaksa aku menuruti kemauanku sendiri yaitu pulang walaupun apa yang akan terjadi dijalan nanti.
Dingin di malam itu di barengi hujan rintik-rintik menusuk tulang-tulang diriku dan sedikit membasahi rambutku. Kaki terus menapak sampailah di tempat yang paling menakutkan. Tahukah kau teman-teman apa yang ku maksudkan? Itulah tempat orang-orang yang sudah lepas nyawanya dari raga. Itulah yang dinamakan kuburan, disitulah aku di kejutkan dengan bayangan berwarna putih di tengah-tengah jalan. Merindinglah semua bulu kudukku, dekat semakin dekat denyut jantung berdenyut semakin keras dan kencang sekali. Tibalah aku dan temanku di depan bayangan itu, ternyata itu cuma kantong beras berwarna putih yang di buang orang. Singkatnya sampailah aku di gubug kecil dipinggiran sawah dan di depannya kali kecil yang membentang dari timur ke barat. Rasa capai telah membuat aku tak punya tenaga lagi. Sebelum aku tidur telah kuisi perutku, tidur terasa pulas sampai-sampai bangunnya kesiangan. Lalu pikiranku terus bertanya-tanya dia manakah kekasihku. Dia telah pergi entah kemana, dia tega pergi tanpa kasih kabar padaku. Seharusnya aku pulang dari perantauan aku merasa bahagia ketemu sama kekasih pujaanku. Kini hilang kebahagian dan gairahku berganti menjadi kecewa bercampur jadi seorang pemurung. Satu hari telah kulalui dengan mencari informasi kesana kemari tapi hasilnya nihil alias sia-sia. Tak sanggup lagi rasanya aku lama-lama di kampung yang lugu ini, aku tidak betah! Aku muak! Aku benci! Aku kesal hidup dikampung ini.
Ku coba lagi sore harinya untuk datang ke kampung siti nurbaya sedikit ada pelega. Karena, ketemu sama teman stiaku. Kutanyakan asal usulnya kenapa sampai terjadi seperti ini, jawabnya sama seperti yang telah kudengar dari orang-orang lain. Kemudian saking asyiknya ngobrol-ngobrol di jalan kereta api dengan temanku Soleh, sebentar-sebentar kutarik nafas kuat-kuat dan aku berteriak.... July..., Julyanti nama yang indah, nama yang telah menyatu dengan namaku, nama yang telah ku ukir di jantungku. Dan nama Juliet nama samaran, di telah memberi nama pada diriku Romeo. Dia itu seorang perempuan yang baik hatinya dia punya pendirian yang teguh dan pendirian satu tak pernah tergoyahkan. July... July yang telah memberikan cintannya yang suci untukku. Aku... aku Rama alias romeo telah menemukan seorang kekasih yang baik hatinya. Kini telah pergi tak tahu dimana dia berada, July masih ingatkah kau padaku yang telah kau tinggalkan ini??? Mungkinkah kau akan kemabali lagi untukku??? Rasa nyesal kini telah kurasakan dan akan kubawa sampai ke Jakarta, selanjutnya akan ku kenang seumur hidupku.
Pagi-pagi aku tinggalkan ibuku, kutinggalkan semua selamat tinggal gubugku! Selamat tinggal kampungku! Semoga aku akan ketemu lagi dan kembali lagi seperti dulu. Semoga kekasihku akan kembali lagi kepadaku. Kemudian di dalam bis sekali lagi rasa kecewa telah ku bawa merantau, tak ku sadari air mata sebening air danau mengalir di pipiku melalui pori-poriku juga. Entah apa yang menyebabkan aku meneteskan air mata, mungkin karena kecewa, mungkin juga aku teringat July kekasihku. Kampung yang menyimpan gadis berwajah cukup cantik, kini telah ditinggalkan sang kekasih. Kini tinggallah desas desus yang membicarakan kisah antara Romeo dan July. Kisah yang penuh liku-liku, kisah yang penuh air mata. Mungkinkah kisah ini akan berganti menjadi kisah yang penuh bahagia dan penuh senyum manis. Jawabnya diatas sana!!! Ah... aku melamun, melamun melambung tinggi. Oh July... July kau kini membuatku kesal, kecewa. Janji yang telah aku ucapkan di hadapan nya kini akan ku penuhi dan ku tepati, tapi kini telah kubawa kembali ke Jakarta dengan penuh penyesalan. Usahaku telah sia-sia, tak ada gunanya kalau begini caranya.
Kini aku telah menginjakan kakiku di tanah Jakarta. Jakarta tempat gedung-gedung pencakar langit, Jakarta yang penuh debu, Jakarta yang membisingkan kuping-kuping mausia, Jakarta tempat yang kejam dsb. Dan Jakarta juga pernah membuat kenangan-kenangan yang indah pada diriku. Membuat diriku bahagia di saat-saat aku berdua dengan July kekasihku, walaupun secara sembunyi-sembunyi. Di Jakartalah aku menemukan seorang gadis yang sedang aku ceritakan, dan sedang pergi meninggalkan diriku. Satu bulan lebih aku di tinggalkan oleh kekasihku, satu bulan juga aku telah mencarinya, dan satu bulan juga aku telah menunggu dia. Tapi aku tak pernah melihat batang hidungnya, berhari-hair aku hanya menanti surat dengan rasa lesu tak bergairah. Pikiranku selalu menghayal, mungkinkah dia akan melupakan diriku begitu saja sehingga dia pergi tanpa pesan, tanpa pamit dan tanpa sepatah kata pun yang tertulis di kertas untuk disampaikan kepadaku. Pikiran timbul bermacam-macam, kicoba untuk mencarinya ketempat yang ku ketahui tapi hasilnya nol besar. Ku coba lagi yang kedua kalinya mencari ketempat yang lain, yaeh..... cuma dapat informasi setengah pasti. Kini satu jalan lagi yang belum aku tempuh yaitu menemui temanku dan temannya July juga. Oh yaeh temanku ini yang perginya bersama-sama dengan July. Setelah kutemukan anak itu, aku tidak bisa bicara dan berkata apa-apa hanya sedikit tanya dan basa-basi. Sebab aku tahu semua di balik kebaikan anak itu. Tersimpan kecurigaan yang di sembunyikan. Hari-hari terus berganti tanpa ke gesilahan seperti diriku, aku sudah pasrah untung rugi tergantung nasibku. Tapi biarpin aku sudah pasrah, rasa kesetiaan masih kupertahankan. Tak mungkin aku melupakan begitu saja pada dia, kesabaran akan kupupuk sampai titik pertemuan nanti sampai dia kembali.
Oh... kekasihku beginikah kau menyatakan kesetiaanmu pada diriku?
Kekasih tahukah kau, hanya satu pujaanku, hanyakau satu pujaanku.
Kekasihku aku menunggu kabarmu, kekasih tahukah kau, aku disini memendam rindu.
Kekasih sering aku melamun karena kau
Kekasih sering aku mangis karena kau
Kekasih sering aku gelisah karena kau
Kekasih sering aku mimpi tentang kita di kata kita melepas rindu.
Kekasih aku sering berdoa untukmu dan untuk orang yang beriman. Dalam doaku ku ucapkan “ya allah lindungilah mereka, ya... allah lindungilah orang-orang islam, orang-orang mu’min laki-laki maupun perempuan, yang masih hidup maupun yang sudah mati.” Kekasih dengarlah doaku ini setiap waktu ku ucapkan. Kekasih masih ingatkah kau janji-janjimu waktu kau ucapkan di depanku. Kekasih masih ingatkah kau waktu aku bersujud di telapak kakimu sambil meneteskan air mata dan tanganmu sambil mengusap pipiku sambil ucapkan “sudahlah jangan menangis, jangan lakukan itu.” Kekasih jangan kau lupakan kesetiaan yang pernah ku berikan pada dirimu. Kalau kau ingat masa-masa dulu itu dan kau ingat masa janji-janji kita. Lalu kau coretkan penamu membuat kata-kata indah seperti dulu. Kemudian kau kirimkan untukku, oh.... pena railah tangan ini, tuntunlah dia untuk mengelus kertas kekasihmu yang selalu bersatu dalam kesraan. Tak pernah terpisahkan diantara kau dan dia, bukankah kau akan ikut merasakan kemesraanku bila ku kecup kekasihmu dan drirmu. Bukankah kau senang bila kau selalu bersamanya. Kau akan ikut merasakan pen... bila kau telah di kemas oleh jari-jari tangan kekasihku. Dan juga kau kertas!!! Bukankah kau selalu di elus mesra oleh jemari tanganku dan tangan kekasihku.
Entah sampai kapan aku menunggu kembalinya kekasihku. Tak ada bahagia tanpa cinta, cintalah juga yang bisa membikin menderita. Pesanku disini janganlah kau permainkan itu cinta.